Rabu, 03 Maret 2010

Aremania Itu Apa


Mengenang suatu siang, jauh di belakang sana, pada hari-hari awal masa Kampanye Pemilu 1992 di sekitar alun-alun bunderan Malang. Iring-iringan simpatisan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan seragam serba hijau berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk gambar bintang. Ada nada marah di wajah mereka, juga dendam. Pemilu 1992 memang masih sekedar sandiwara, tak perduli dukungan sebesar apapun sudah jelas Golkar menang mutlak. Dan pawai kampanye jadi salah satu ajang pelampiasan kekesalan, seperti terlihat dari iringan massa PPP. Di pinggir, orang-orang menyambut riang, seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Hanya sekian menit kemudian mendadak wajah mereka berubah pucat, tatkala dari arah berlawanan muncul pula arak-arakan Golkar, berwarna kuning dan lambang pohon beringin; musuh bebuyutan!

"Wah, ruwet iki pasti tawuran," celutuk mereka yang di pinggir jalan sambil beranjak menjauh dari kemungkinan bentrokan. Semakin mendekat arak-arakan, aroma amuk pun terasa menyebar. Kedua gerombolan pasang kuda-kuda. Besi, pentungan, batu, rantai, sudah ditangan. Hujatan, cacian dan provokasi mulai keluar. "Golkar keat (tai), diancuk!" PPP bedes (Monyet)! Kerek (Anjing)!"

Seperti diduga, batu-batu melayang. Bagaimanapun dalam situasi chaostik itu, masih ada yang berupaya tetap dingin --turun dari truk dan melerai massa masing-masing. "Hop, hop! (berhenti,berhenti!) Diancuk, keat kabeh! (Diancuk, semua tai !) Iki podo Ngalam, podo Arema, kok tarung! (Sesama warga Kota Malang, sesama Arema, kok berkelahi!)

Ayo salaman..!!!" Suasana amok mencair drastis. 'Arema' rupanya bertuah, punya magis, seperti imam yang harus dipatuhi. 'Arema' menyebar senyum, menggali kekerabatan dan kedua rombongan melanjutkan perjalanan, seolah tidak ada lagi tarung kepentingan politik. Arema ?
***

Arema; Arek Malang atau anak Malang. Sedangkan Ngalam kebalikan Malang, kota yang tak begitu kecil dan tak begitu besar, penghasil apel hijau yang asem-asem manis, dan dulu pernah bercuaca amat sejuk. Malang, hanya sekitar satu jam perjalanan dari Ibukota Propinsi Jawa Timur, Surabaya, namun menempatkan jurang yang cukup jauh dalam karakter komunitas, paling tidak komunitas anak muda.

Semula Arema digunakan sebagai identitas anak-anak muda asal Malang pada tahun 70-an dan awal 80-an, khususnya bagi yang merantau Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Istilah itu juga akrab di kalangan geng-geng anak muda Malang, yang saat itu sedang menggejala. Belakangan, kata Arema dipakai resmi jadi nama klub sepakbola profesional Malang yang didirikan pertengahan tahun 80-an. Pendirinya mantan Gubernur Irian Jaya, Acub Zainal. Arema makin menjulang, dan menjadi kebanggaan anak-anak muda di kota, yang dijuluki sebagai kota kaum pensiunan itu, setelah Arema memenangkan Piala Galatama 1987. Bayangkan betapa besarnya makna Arema yang terangkat oleh sebuah klub sepakbola pendatang baru dari sebuah kota ukuran menengah, Malang, yang menjungkirkan nama-nama besar macam Niac Mitra Surbaya maupun Pelita Jakarta.

Kebesaran Arema terus terpelihara sampai sekarang. Jangan heran, hampir di semua sudut kota Malang, termasuk di gang-gang sempitnya, diriuhi coret-coret logo klub Arema ; singa mengaum dengan dasar biru tua. ''Kegilaan mereka terhadap klub sepakbola kesayangannya, mirip kegilaan fans sepakbola manca negara,'' ungkap wartawan Kompas, Putu Fajar Arcana, yang bukan asli Malang, waktu melukiskan ekpresi penggila bola kota Malang. Dia menulis, "Jangan diragukan lagi sepakbola bagi masyarakat Malang ibaratnya rokok bagi lelaki. Olahraga 'rakyat' ini menjadi keseharian yang serius. Bahkan dianggap sebagai ekspresi 'kejantanan'. Bisa jadi penilaian wartawan tadi agak berlebihan, tapi ada benarnya jika menengok Arema menggelar pertandingan di Stadion Gajayana, Malang. Stadion yang berkapasitas 17.000 orang itu dipadati sampai lebih 25.000 orang. Belum lagi, aktivitas pendukung resminya yang mencapai 25.000, dengan 'perwakilan' yang dapat dijumpai di Jakarta, Denpasar atau Batam.

Salah satu contoh konkrit tatkala PS Arema, yang kala itu dikelola Lucky Zainal, berhasil melaju ke 8 (delapan) besar Liga Indonesia di Stadion Senayan Tahun 2000. Ketimbang penggila peserta delapan besar yang lain, kehadiran suporter Arema paling semarak penampilannya, sehingga hampir semua media terbitan Jakarta saat itu mengangkat khusus gejala itu. Sebuah tabloid mingguan olahraga malah menampilkan foto ekspresi para Aremania dalam dua halaman penuh. Lebih dari itu, seorang penggila bola yang melihat lewat layar kaca kecele mengira ekpresi Aremania di stadion senayan itu adalah penggila bola asal Inggris. "Tak hanya rancangan kostum yang menarik," tulis Harian Kompas," tetapi juga lagu-lagu ciptaan mereka sendiri untuk mengangkat moral timnya."
***

Lantas apa hubungan antara kejadian di sebuah siang Kampanye Pemilu 1992 dengan Aremania? Ekspresi 'kegilaan' penggemar sepakbola di Malang jelas bisa terjadi di kota mana saja, terutama di kota-kota di mana sepakbola dinisbatkan seolah sebagai iman, sebagai agama, macam di Brazil atau Inggris. Fenomena seperti itu barangkali juga terlihat di komunitas bola di Makasar, Surabaya, atau Medan. Namun, tatkala kegilaan itu -- melalui identifikasi Aremania sepakbola -- menjadi sebuah semacam 'kanalisasi' konflik atau apalah -yang jelas bisa meredakan konflik-- tentu membuka banyak penafsiran.

Ada banyak contoh dari pengaruh langsung identifikasi lewat Arema dalam meminimalkan bentrokan atau gesekan antar kelompok masyarakat di Malang. Peredaman seperti kejadian Kampanye Pemilu 1992, antara Golkar yang super kuat dengan PPP yang merasa tertipu, acap terulang. Lantas saat kecamuk kerusuhan 1998 yang melanda sejumlah kota-kota lain, ternyata Malang, yang sudah dipadati pertokoan dengan 48 kampus dan 100.000 mahasiswa, luput dari aksi penjarahan dan demonstrasi anarkis. "Dengan memakai pendekatan ala Arema," ujar petinggi kota itu, saat ditanya resep pengamanan. Rupanya, saat itu ribuan preman dikumpulkan melalui perkumpulan suporter Arema, dan ditugaskan mengamankan kota. Berhasil. "Fenomena Aremania berkembang ke arah kepentingan ekonomi, sosial dan politik, dan bahkan keamanan," komentar sejumlah pengamat sosial atas kejadian itu.

Tentu proses identifikasi Aremania tidak begitu saja terjadi tanpa proses yang panjang. Makin mengentalnya identifikasi itu tak luput dari penggunaan bahasa walikan (balikan) di antara komunitas anak-anak muda Malang. Tidak diketahui secara secara persis kapan kebiasaan bahasa walikan itu dimulai. Ada yang bilang kebiasaan berbahasa seperti itu dimulai oleh anggota geng-geng Malang pada awal 70-an. Yang jelas melalui bahasa prokemnya anak-anak Malang, kata pengamat sosial budaya Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Djoko Sardjono, bahasa walikan makin mengentalkan proses identifikasi Aremania. Bahkan, mengutip Dr. Djoko Sardjono, "Aremania sudah menjadi semacam subkultur, di mana terdapat persamaan emosi yang guyub di antara komunitas."

Saya sendiri pernah 'diselamatkan' oleh bahasa walikan khas Malang. Waktu itu di Stasiun Senen, Jakarta, saya ingin pulang kampung ke Malang tapi kehabisan tiket dan berdiri bingung di salah satu pintu masuk gerbong. Tiba-tiba muncul seseorang, berpenampilan menyeramkan, dan memang menodong saya minta duit. Tahu kalau dialeknya khas Malang, saya langsung menyergap dengan bahasa walikan. "Ayas kadit ojir, jes!" (Aku tidak punya uang, mas!). Sekonyong-konyong dia pasang muka manis. Urusan selesai. Bagi anak-anak Malang, sudah jadi pegangan agar menggunakan bahasa walikan di kawasan Blok M supaya bebas dari tekanan para preman asal Malang yang memang banyak berlalu-lalang di sana.

Terhadap fenomena identifikasi aremania itu, muncul bermacam analisa. Sebagian pengamat --dengan sedikit genit dan bagi beberapa orang mungkin terasa berlebihan-- mengkaitkan hal itu secara kultural dengan fenomena proletar yang disimbolkan dalam diri Ken Arok, Raja Singosari pertama dari jaman abad ke 12 silam. Bekas kerajaan Singosari ini terletak di kecamatan Singosari, sekitar lima belas menit dari Pusat Kota Malang. Kata mereka, latar belakang Ken Arok adalah raja jelata, dan berhasil memfusikan berbagai kekuatan para preman, sekaligus para pendeta untuk melawan kerajaan Kediri. "Sepenggal sejarah itu, paling tidak menjelma dalam spirit Aremania. Paling tidak terlihat, saat Aremania menjadi benteng kota yang efektif untuk melawan perusuh saat reformasi bergulir," kata pengamat budaya Dwi Tjahyono (Kompas, 15 Desember 2000).

Analisa yang mungkin tergolong standard, dari para sosiolog -yang buat saya tamatan Ilmu Administrasi Negara Univeristas Brawijaya terasa masuk akal juga-- adalah bahwa fenomena Aremania disokong oleh suatu kesadaran bersama (kolektif) atas dasar persamaan emosi tentang betapa pentingnya melakukan identifikasi. Dan itu ditemukan anak-anak Malang melalui sebuah permainan sebelas orang dalam menendang dan merebut sebuah benda bundar. Olahraga khas orang-orang bawah itu kemudian dibungkus dalam sebuah kata yang sebelumnya sudah hidup di Malang secara sosial; Arema, dan kemudian dijahit lebih kuat lagi dengan bahasa walikan. Kaum muda Malang pun identik dengan sepakbola, Arema, dan bahasa walikan. Itulah dia Aremania.
***

 

Senin, 01 Maret 2010

ANGGARAN DASAR / ANGGARAN RUMAH TANGGA ( AD / ART )


Pasal 1

NAMA ORGANISASI

 

Nama Organisasi adalah “ Forum Persaudaraan Arema Jabotabek Cikarang Baru – Lemahabang ( FPAJ/CKB-LA ) “. Didirikan pada tanggal 19 Desember 2004 , dan diresmikan tanggal 13 februari 2005. sesuai keputusan rapat anggota , tanggal 19 desember untuk selanjutnya akan dijadikan sebagai hari jadi / hari ulang tahun organisasi FPAJ/CKB-LA. Dalam AD/ART ini untuk selanjutnya nama organisasi akan disebut

“ organisasi “ saja.

 

Pasal 2

SEKRETARIAT ORGANISASI

 

Untuk berjalannya organisasi, sekretariat telah disepakati bertempat di “ Perumahan Cikarang Baru , Jl. Menjangan IV Blok P1 N0 21 Cikarang Baru 17818 , Bekasi Telp 02189836165, 02127925439 . “

 

Pasal 3

VISI ORGANISASI

 

Visi organisasi : “ menjalin silaturahmi & persaudaraan yang kuat , baik antara sesama

Warga Malang di perantauan maupun antara warga Malang dengan warga / lingkungan sekitar “

 

Pasal 4

MISI ORGANISASI

 

  1. sebagai wadah / sarana bersilaturahmi, tukar pikir antar sesama warga Malang
  2. menjaga persatuan dan kesatuan warga malang
  3. membantu sesama warga malang yang membutuhkan bantuan , seperti memberi informasi mengenai lapangan pekerjaan , atau hal – hal lainnya. Bagi warga Malang yang sudah mapan wajib membantu mereka yang belum bekerja semampunya
  4. sebagai wadah untuk menampung dan menyalurkan bakat –bakat atau keahlian yang dimiliki anggota, seperti bakat seni, olah raga dan sebagainya.
  5. misi social yaitu kegiatan – kegiatan yang bersifat kemasyarakatan seperti : membantu yayasan yatim piatu , membantu kegiatan warga sekitar, membantu korban bencana alam dan lain – lain.

 

 

 

Pasal 5

SIFAT  & SYARAT KEANGGOTAAN

  1. sifat keanggotaan adalah sukarela, tak ada paksaan, personil yang menjadi anggota adalah individu yang benar – benar punya keinginan berorganisasi, berkumpul sesama saudara , konsisten pada organisasi.
  2. untuk menjadi anggota organisasi syaratnya antara lain :

-          mengisi form data pribadi yang telah disediakan

-          melampirkan pas foto 3 X 4 sebanyak 2 lembar

-          membayar uang pendaftaran untuk pembuatan id card

-          bersedia membayar iuran bulanan

-          jujur, bersedia mentaati peraturan organisasi dan aktif berorganisasi

 

oleh karena organisasi dibentuk dari , oleh dan untuk anggota, maka sukses atau tidaknya organisasi adalah menjadi tanggung jawab bersama.

 

Pasal 6

MASA KERJA PENGURUS

 

Masa kerja pengurus adalah 2 ( dua ) tahun periode kepengurusan, dan sesudahnya dapat dipilih kembali maksimal 3 ( tiga ) kali periode kepengurusan lagi. Rapat pertanggung jawaban pengurus harus dilaksanakan dan disampaikan kepada anggota.

 

Pasal 7

IURAN ANGGOTA

 

Setiap anggota wajib membayar iuran bulanan sebesar Rp. 5.000,-. Iuran ini sepenuhnya akan digunakan untuk berjalannya roda organisasi. Pembayaran dapat dilakukan di kordianator yang ditunjuk , tempat2 yang direkomendasikan , atau pada saat pertemuan rutin.

 

Pasal 8

KARTU IDENTITAS ANGGOTA

 

Setiap anggota dibuatkan kartu  identitas anggota, yang menjadi identitas keanggotaan. Kartu identitas ini berlaku selama yang bersangkutan menjadi anggota organisasi dan berdomisili di wilayah Cikarang Baru – Lemahabang.

Bagi anggota yang pindah wilayah , maka akan diberikan pilihan : tetap menjadi anggota dengan kewajiban memenuhi segala peraturan yang telah ditetapkan atau melepaskan haknya menjadi anggota wilayah asal.

   Jika tetap bersedia menjadi anggota maka kartu identitas tidak perlu dikembalikan ke secretariat, sebaliknya jika melepaskan haknya maka yang bersangkutan wajib mengembalikan kartu identitasnya ke secretariat.

 

Pasal 9

TATA TERTIB ANGGOTA

 

Setiap anggota terikat dan tunduk pada AD/ART, ketentuan serta tata tertib organisasi, antara lain :

  1. selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan YME , sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing – masing.
  2. wajib menjaga nama baik AREMA , baik dalam sikap dan tingkah laku
  3. saling membantu dalam hal kebaikan
  4. tidak menyalahgunakan segala segala atribut Arema untuk kepentingan pribadi/ kelompok tertentu yang bertentangan dengan visi/misi organisasi
  5. menjauhkan diri dari sifat anarkis, kekerasan, membuat kerusuhan / SARA, atau hal – hal yang melanggar hokum di NKRI
  6. menghindari pemanfaatan negative dari orang / organisasi lain yang bertentangan dengan sifat umum Arema
  7. bebas berpolitik tanpa melibatkan nama besar Arema
  8. selalu meningkatkan hidup mandiri, tegar menghadapi tantangan hidup di rantau, loyal kepada Arema dan penuh tanggung jawab.
  9. mentaati semua aturan yang tertera dalam AD/ ART organisasi
  10. anggota yang mengundurkan diri, pindah tempat/domisili harus memberitahukan kepada secretariat/pengurus.

 

Pasal 10

SANKSI

 

Segala pelanggaran terhadap tata tertib, visi & Misi organisasi yang dilakukan oleh anggota, akan diberikan teguran, dan jika hal tersebut tidak berhasil serta serta pelanggaran masih dilakukan, maka akan diadakan rapat pengurus, dengan keputusan terakhir akan mencabut keanggotaan dari organisasi.

 

 

Pasal 11

SUMBER DANA

 

Untuk kemajuan dan kelancaran organisasi, maka diusahakan penggalangan dana antara lain dari :

  1. iuran bulanan anggota
  2. usaha dagang / bisnis
  3. sponsor
  4. donatur, dll

 

Pasal 12

PERTEMUAN ANGGOTA

 

Untuk tetap menjaga eksitensi organisasi, pertemuan rutin akan dilaksanakan setiap 2

( dua ) bulan sekali, bertempat di secretariat atau ditempat lain. Pemberitauan itu akan diberitahukan diberitahukan secara tertulis kepada anggota

 

Pasal 13

PROGAM KERJA ORGANISASI

 

Progam kerja organisasi disesuaikan dengan masa kerja kepengurusan, progam yang akan dilakukan bisa meneruskan progam kepengurusan sebelumnya atau dengan menyusun progan baru dengan menyesuaikan kondisi dan kebijakan pengurus yang menjabat.

 

Pasal 14

INFORNASI UMUM

 

  1. setiap anggota memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam kedudukannya dalam organisasi
  2. anggota yang sudah terdaftar dan dalam kurun waktu empat bulan berturut – turut tidak memenuhi kewajibannya dalam organisasi seperti : membayar iuran bulanan atau hadir dalam pertemuan ( kecuali ada pemberitahuan ) , maka akan dianggap sebagai anggota pasif. Dan jika menurut  pertimbangan dianggap perlu maka yang bersangkutan dianggap mengundurkan diri dari organisasi.
  3. data pribadi anggota akan selalu diupdate secara rutin

 

Demikian Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga Organisasi ini. AD/ART ini bersifat menyeluruh, hanya berisi hal – hal yang pokok saja. Adapun hal –hal yang tidak atau belum tercantum dalam AD/ART ini akan diatur kemudian dalam petunjuk pelaksanaan Organisasi.

 

Ditetapkan di                 : Cikarang ( Revisi AD/ART th 2004 )

Pada Tanggal                 : 06 Maret 2009

 

Tertanda,

 

    

 

 

 

 

 

 

Moch. “ Lee “ Soleh                                              Rachman Subekti

Sekretariat Jenderal                                                   Presiden

SEJARAH BOSO WALIKAN - KHAS AREMA


Di sudut kota, tepatnya di daerah Kidul Pasar, beberapa orang bergaris wajah keras bergerombol. Mereka dari kalangan tukang parkir. Entah apa yang mereka bicarakan. Kadang dimengerti kadang tidak. Kalau diperhatikan, pembicaraan mereka sedang menghitung keuntungan parkir.

Itu tampak dari beberapa perkataan mereka yang sesekali menggunakan bahasa Jawa dicampur bahasa Malangan.

"Wah nek ngene, awak kadit unyap ojir. Lha adapes2 rotom iku podho kadit rayab blas nek parkir nang kene (wah, kalau begini, aku tidak punya uang.

Lha sepeda motor-sepeda motor itu kalau parkir di sini tidak ada yang bayar)," kata Sukriman, salah seorang tukang parkir itu.

Lain lagi para Aremania yang ternyata sudah membumi dengan bahasa Malangan.

Penggunaan bahasa Malangan itu ternyata kerap digunakan. Ini menunjukkan kebanggaan sebagai warga Malang. "Sekitar 80 persen Aremania menerapkan bahasa walikan. Kami malah bangga menggunakan bahasa Malangan ketika sedang tur mengikuti pertandingan Arema. Bahasa itu kami gunakan untuk memuji Arema atau mengkritik tim lawan," kata Agus Kancil, ketua Korwil Aremania Kasin.

 

Namun, kalau dicermati, ternyata ada bahasa yang khas istilah yang asli Malang. Seperti genaro (orang), ebes (orang tua), ojir (uang), raijo (uang), daroja (sepeda), dan sebagainya. Sedangkan yang lainnya, walikan diambil dalam bahasa yang sebenarnya Misalnya, kadit itreng (tidak ngerti), nakam (makan), nganal (laki-laki), kodew (perempuan), dan silup (polisi).

Lalu, dari mana munculnya bahasa walikan ini?

Pengamat sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menjelaskan, bahasa walikan yang kini sudah menjadi bahasa gaul tersebut sudah lama digunakan para pejuang di masa sebelum kemerdekaan. Bahasa walikan sudah lama menjadi sandi-sandi khusus para pejuang untuk berkomunikasi dengan para pribumi.

"Ini digunakan untuk mengelabuhi para penjajah di zaman Belanda.

Sebab, dengan cara itu, ternyata lebih mudah menjalin hubungan dengan sesama pejuang," terang pengamat sejarah ini.

 

Kini bahasa walikan sudah membaur jadi satu dengan bahasa Malangan. Bahkan, kini sudah menjadi trade mark warga Malang. "Bahasa Malangan kini sudah menjadi bahasa gaul dari berbagai kalangan. Tidak hanya yang muda. Yang tua pun masih awet menggunakannya. Bahkan, bahasa walikan ini bisa mempererat hubungan persaudaraan," tutur Dwi.

 

----------------------------------------------------------------------

Osob kiwalan kera ngalam (bahasa terbalik Arek Malang) berasal dari pemikiran para pejuang tempo doeloe yaitu kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK). Bahasa khusus ini dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan, efektifitas komunikasi sesama pejuang selain juga sebagai pengenal identitas kawan atau lawan. Metode pengenalan ini sangat penting karena pada masa Clash II perang kemerdekaan sekitar akhir Maret 1949 Belanda banyak menyusupkan mata-mata di dalam kelompok pejuang Malang.

 

 

Mata-mata ini banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap informasi dari kalangan pejuang GRK. penyusupan ini terutama untuk memburu sisa laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran dukuh Sekarputih (Desa Wonokoyo sekarang).

Seorang tokoh pejuang Malang pada saat itu yaitu Pak Suyudi Raharno mempunyai gagasan untuk menciptakan bahasa baru bagi sesama pejuang sehingga dapat menjadi suatu identitas tersendiri sekaligus menjaga keamanan informasi. Bahasa tersebut haruslah lebih kaya dari kode dan sandi serta tidak terikat pada aturan tata bahasa baik itu bahasa nasional, bahasa daerah (Jawa, Madura, Arab, Cina) maupun mengikuti istilah yang umum dan baku. Bahasa campuran tersebut hanya mengenal satu cara baik pengucapan maupun penulisan yaitu secara terbalik dari belakang dibaca kedepan.

 

 

Karena keakraban dan pergaulan sehari-hari maka para pejuang dalam waktu singkat dapat fasih menguasai 'bahas' baru ini. Sedangkan lawan dan para penyusup yang tidak setiap hari bergaul dengan sendirinya akan kebingungan dan selalu ketinggalan istilah2 baru. Maka siapapun yang tidak fasih mempergunakan osob AREMA ini pasti bukan dari golongan pejuang dan pendukungnya, sehingga kehadiran para penyusup dapat diketahui dengan cepat serta rahasia komunikasi tetap terjaga.

 

Karena bahasa ini sangat bebas dan longgar aturannya maka kemungkinan pengembangannya sangat luas untuk itu perlu disepakati beberapa istilah penting dikalangan pejuang. Kesepakatan istilah ini diperlukan juga karena banyak kata penting sulit untuk dibaca terbalik sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh para pelakunya.

Contohnya kata 'Belanda' dalam bahasa Jawa disebut 'Londho' yang cukup sulit dibaca terbalik, maka dicari istilah padanannya yaitu 'Nolo'.

Demikian juga dengan 'Polisi' bukan menjadi 'Isilop' namun cukup 'Silop'.

Kemudian untuk 'mata-mata' bila dibaca terbalik menjadi 'atam'. Namun untuk menentukan bahwa yang dimaksud dalam istilah tersebut adalah antek Belanda maka ditambahi kata 'keat' dari asal kata 'taek' yang dalam bahasa jawa berarti kotoran. 'Keat Atam' atau kotoran mata dalam bahasa jawa disebut 'ketek' adalah sebutan yang pas untuk para penyusup ini.

 

 

Begitu juga dengan nama peralatan perang seperti senjata genggam karena sulit menemukan istilah yang pas maka dipakai kode samaran 'Benduk' dan untuk laras panjang (dowo = panjang dalam bahasa Jawa) disebut 'benduk owod' atau disingkat 'owod' saja. Sedangkan untuk menunjuk masyarakat suku / etnik tertentu disebut 'onet' untuk golongan Cina (asal kata 'cino' dalam bahasa Jawa), 'arudam' untuk madura, 'arab' menjadi 'bara' dan seterusnya.

Sedang untuk menyebut diri seseorang digunakan 'uka' = aku, 'ayas' = saya, 'umak' = kamu, 'okir' = riko (kamu dalam bahasa madura).

 

Sedangkan untuk menyebutkan sesuatu yang baik / bagus digunakan istilah 'nez' dari asal kata bahasa arab 'zen'. Begitu pula dalam menyebut orang tua laki-laki (ayah, Bapak) orang arab biasa menyebut dengan 'abah' atau 'sebeh' yang kemudian menjadi 'ebes'. Istilah 'ebes' kemudian menjadi populer ditujukan sebagai gelar kehormatan tidak resmi kepada para komandan, pemimpin atau pembesar dan pemuka masyarakat yang dituakan oleh segenap masyarakat Malang sampai sekarang.

 

Suyudi Raharno pada September 1949 gugur disergap Belanda di suatu pagi buta dipinggiran wilayah dukuh Genukwatu (Purwantoro sekarang) walaupun keadaan pada saat itu sedang gencatan senjata. Seminggu sebelumnya salah seorang kawan akrabnya yang turut mencetuskan 'osob kera ngalam' yaitu Wasito juga gugur dalam pertempuran di Gandongan (Pandanwangi) sekarang.

Saat ini keduanya telah disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati - Jalan Veteran Malang.

PROFIL MALANG RAYA


Malang Raya merupakan daerah yang terbagi menjadi 3 bagian yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang dan yang terakhir adalah Kota Batu yang dulu merupakan bagian dari Kabupaten Malang.

Malang Raya adalah daerah yang berkembang dan mempunyai beragam potensi yaitu Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia dan Ekonomi. Bidang-bidang usaha yang ada mampu memberikan pemasukan daerah dan peningkatan sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan daerah Malang dan sekitarnya.

Kondisi Malang Raya ini sangat memungkinkan untuk perkembangan usaha-usaha yang manghasilkan, karena potensi yang mendukung. Seperti Wisata, Pendidikan, Hotel dan lain-lain, saling berkitan erat antar satu dengan yang lainnya.

Sekilas Kota Malang
Kota malang seperti kota-kota lain di Indonesia pada umumnya baru tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda.
Fasilitas umum di rencanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif itu masih berbekas hingga sekarang. Misalnya Ijen Boulevard kawasan sekitarnya. hanya dinikmati oleh keluarga- keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumiharus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang bagai monumen yang menyimpan misteri dan seringkali mengundang keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim disana untuk bernostalgia.

Pada Tahun 1879, di Kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak itu Kota Malang berkembang dengan pesatnya. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali.
Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

Sejalan perkembangan tersebut di atas, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekitar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan. Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi perkampungan, dan degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandainya masalah itu diabaikan.

Sekilas Sejarah Pemerintahan
1. Malang merupakan sebuah Kerajaan yang berpusat di wilayah Dinoyo, dengan rajanya Gajayana.
2. Tahun 1767 Kompeni memasuki Kota
3. Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar kali Brantas
4. Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
5. Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.
6. 1 April 1914 Malang di tetapkan sebagai Kotapraja
7. 8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
8. 21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia
9. 22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
10.
2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
11. 1 Januari 2001, menjadi Pemerintah Kota Malang.

Kota Malang mempunyai julukan yaitu paris van java, kota pesiar, kota peristirahatan, kota pendidikan, kota militer, kota sejarah dan kota bunga.

Sekilas Kabupaten Malang
Kabupaten Malang adalah salah satu Kabupaten di Indonesia yang terletak di Propinsi Jawa Timur dan merupakan Kabupaten yang terluas wilayahnya dari 37 Kabupaten/ Kotamadya yang ada di Jawa Timur. Hal ini didukung dengan luas wilayahnya 3.348 km
� atau sama dengan 334.800 ha dan jumlah penduduknya 2.346.710 (terbesar kedua setelah Kotamadya Surabaya). Kabupaten Malang juga dikenal sebagai daerah yang kaya akan potensi diantaranya dari pertanian, perkebunan, tanaman obat keluarga dan lain sebagainya. Disamping itu juga dikenal dengan obyek-obyek wisatanya.

Sejarah Kabupaten Malang
Ketika kerajaan Singhasari dibawah kepemimpinan Akuwu Tunggul Ametung yang beristrikan Ken Dedes, kerajaan itu dibawah kekuasaan Kerajaan Kediri. Pusat pemerintahan Singhasari saat itu berada di Tumapel. Baru setelah muncul Ken Arok yang kemudian membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes, pusat kerajaan berpindah ke Malang , setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri.
Kediri saat itu jatuh ke tangan Singhasari dan turun statusnya menjadi kadipaten. Sementara Ken Arok mengangkat dirinya sebagai raja yang bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana atau Dhandang Gendhis (1185 - 1222).
Kerajaan ini mengalami jatuh bangun. Semasa kejayaan Mataram, kerajaan-kerajaan di Malang jatuh ke tangan Mataram, seperti halnya Kerajaan Majapahit. Sementara pemerintahan pun berpindah ke Demak disertai masuknya agama Islam yang dibawa oleh Wali Songo. Malang saat itu berada di bawah pemerintahan Adipati Ronggo Tohjiwo dan hanya berstatus kadipaten. Pada masa-masa keruntuhan itu, menurut Folklore, muncul pahlawan legendaris Raden Panji Pulongjiwo. Ia tertangkap prajurit Mataram di Desa Panggungrejo yang kini disebut Kepanjen (Kepanji-an). Hancurnya kota Malang saat itu dikenal sebagai Malang Kutho Bedhah.
Bukti-bukti lain yang hingga sekarang merupakan saksi bisu adalah nama-nama desa seperti Kanjeron, Balandit, Turen, Polowijen, Ketindan, Ngantang dan Mandaraka. Peninggalan sejarah berupa candi-candi merupakan bukti konkrit seperti :
Candi Kidal di Desa Kidal Kec. Tumpang yang dikenal sebagai tempat penyimpanan jenazah Anusapati.
Candi Singhasari di Kec.
Singosari sebagai penyimpanan abu jenazah Kertanegara.
Candi Jago / Jajaghu di Kec. Tumpang merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Wisnuwardhana.

Pada zaman VOC, Malang merupakan tempat strategis sebagai basis perlawanan seperti halnya perlawanan Trunojoyo (1674 - 1680) terhadap Mataram yang dibantu VOC. Menurut kisah, Trunojoyo tertangkap di Ngantang. Awal abad XIX ketika pemerintahan dipimpin oleh Gubernur Jenderal, Malang seperti halnya daerah-daerah di nusantara lainnya, dipimpin oleh Bupati.
Bupati Malang I adalah Raden Tumenggung Notodiningrat I yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda berdasarkan resolusi Gubernur Jenderal 9 Mei 1820 Nomor 8 Staatblad 1819 Nomor 16. Kabupaten Malang merupakan wilayah yang strategis pada masa pemerintahan kerajaan- kerajaan. Bukti-bukti yang lain, seperti beberapa prasasti yang ditemukan menunjukkan daerah ini telah ada sejak abad VIII dalam bentuk Kerajaan Singhasari dan beberapa kerajaan kecil lainnya seperti Kerajaan Kanjuruhan seperti yang tertulis dalam Prasasti Dinoyo. Prasasti itu menyebutkan peresmian tempat suci pada hari Jum`at Legi tanggal 1 Margasirsa 682 Saka, yang bila diperhitungkan berdasarkan kalender kabisat jatuh pada tanggal 28 Nopember 760. Tanggal inilah yang dijadikan patokan hari jadi Kabupaten Malang. Sejak tahun 1984 di Pendopo Kabupaten Malang ditampilkan upacara Kerajaan Kanjuruhan, lengkap berpakaian adat zaman itu, sedangkan para hadirin dianjurkan berpakaian khas daerah Malang sebagaimana ditetapkan.

Sekilas Kota Batu
6 Maret 1993
Kota administrasi Batu dibentuk dan diresmikan (sebelumnya merupakan kecamatan bagian wilayah Kabupaten Malang).

10 April 1995
Surat persetujuan DPRD Kab. Malang dan bupati Malang tentang peningkatan status kotif Batu menjadi kotamadya Batu

11 April 1995
Pengusulan kepada gubernur tentang peningkatan status kotif menjadi kotamadya.

6 Juni 1996
Dengan persetujuan DPRD kota Malang dan surat bupati Malang disertai surat Pembantu Gubernur di Malang, Batu mengusulkan peningkatan status dari Kotif menjadi kotamadya ke gubernur Jawa Timur.

12 Januari 2001
Melalui proses yang panjang, maka setelah pemilu 1999 terbit Keputusan Presiden Republik Indonesia tentang penetapan Jumlah dan Tata Cara Pengisian Keanggotaan DPRD propinsi dan Kabupaten/Kota.

28 Februari 2001
Keputusan Menteri Dalam negeri dan Otonomi Daerah pada tentang petunjuk Pelaksanaan Penetapan Jumlah dan Tata Cara Pengisian Keanggotaan DPRD Propinsi dan Kabupaten / Kota.

21 Juni 2001
Batu resmi menjadi Kota berdasarkan UU No 11 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Batu

Sejarah Kota Batu
Sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan, karena wilayah adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman, juga didukung oleh keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan.

Pada waktu pemerintahan Raja Sindok , seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti.

Atas persetujuan Raja, Mpu Supo yang konon kabarnya juga sakti mandraguna itu mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan serta dibangunnya sebuah candi yang diberi nama Candi Supo.

Sebagaimana keinginan Raja, ditempat peristirahatan tersebut terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris yang bertuah sebagai benda pusaka dari kerajaan Sendok. Oleh karena sumber mata air yang sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural (Magic) yang maha dasyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk akhirnya berubah menjadi sumber air panas. Dan sumber air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Wilayah Kota Batu yang terletak di dataran tinggi di kaki Gunung Panderman dengan ketinggian 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut, berdasarkan kisah-kisah orang tua maupun dokumen yang ada maupun yang dilacak keberadaannya, sampai saat ini belum diketahui kepastiannya tentang kapan nama "B A T U" mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut.

Dari beberapa pemuka masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu.

Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih cepat bila memanggil seseorang, akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau batu sebagai sebutan yang digunakan untuk Kota Dingin di Jawa Timur.

Sedikit menengok ke belakang tentang sejarah keberadaan Abu Ghonaim sebagai cikal bakal serta orang yang dikenal sebagai pemuka masyarakat yang memulai babat alas dan dipakai sebagai inspirasi dari sebutan wilayah Batu, sebenarnya Abu Ghonaim sendiri adalah berasal dari Jawa Tengah. Abu Ghonaim sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah di kaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda (Kompeni)

Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan buruknya bersama dengan masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa, pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro.

Akhirnya banyak penduduk dan sekitarnya dan masyarakat yang lain berdatangan dan menetap untuk berguru, menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu. Bermula mereka hidup dalam kelompok (komunitas) di daerah Bumiaji, Sisir dan Temas akhirnya lambat laun komunitasnya semakin besar dan banyak serta menjadi suatu masyarakat yang ramai.

Sebagai layaknya Wilayah Pegunungan yang wilayahnya subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki Panorama Alam yang indah dan berudara sejuk, tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati Batu sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal abad 19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda, sehingga orang-orang Belanda itupun membangun tempat-tempat Peristirahatan (Villa) bahkan bermukim di Batu. Situs dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda atau semasa Pemerintahan Hindia Belanda itupun masih berbekas bahkan menjadi aset dan kunjungan Wisata hingga saat ini.

Begitu kagumnya Bangsa Belanda atas keindahan dan keelokan Batu, sehingga bangsa Belanda mensejajarkan wilayah Batu dengan sebuah negara di Eropa yaitu Switzerland dan memberikan predikat sebagai De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa.

Peninggalan arsitektur dengan nuansa dan corak Eropa pada penjajahan Belanda dalam bentuk sebuah bangunan yang ada saat ini serta panorama alam yang indah di kawasan Batu sempat membuat Bapak Proklamator sebagai The Father Foundation of Indonesia yaitu Bung Karno dan Bung Hatta setelah Perang Kemerdekaan untuk mengunjungi dan beristirahat di kawasan Selecta Batu.

AREMA Cikarang : Semangat Satu Jiwa Mengikis Perbedaan


Adalah Sam Yadi "Singo" yang merintis cikal-bakal terbentuknya
Arema-Cikarang. Sam Yadi mengumpulkan orang satu demi satu. Dia tidak
sungkan atau malu untuk menegur orang yang dia ketahui berasal dari
Malang. Setiap bertemu orang yang mengenakan atribut Arema, entah itu
memakai kaos atau terdapat stiker Arema pada kendaraan atau rumahnya,
pasti akan dia tegur dan diajaknya untuk bergabung.

Dari yang hanya belasan orang hingga terkumpul lebih dari tigaratusan
orang. Hingga pada medio tahun 2000 berkumpulah kami semua di sebuah
tempat yaitu Bengkel Arema milik Alm. Ebes H. Suharto yang berlokasi
tepat di depan pintu Tol Cikarang.

Dipilihnya tempat ini karena letaknya yang strategis dan mudah
dijangkau dari segala arah. Dari awal dibentuknya hingga sekarang
telah terjadi pergantian kepengurusan sebanyak tiga kali.

Pada periode awal terbentuknya korwil ini, terpilih beberapa orang
pengurus, diantaranya:
Ketua : Sam Yadi "Singo"
Wakil Ketua : Samynojd
Seketaris : Pak De Yatno
Bendahara : Sam Sujud
Penasehat : Alm. Ebes H. Suharto, Ebes H. Nakhrowi, Sam Hery
Schneider, Sam Ot (Anto Baret), Kapten Kopasus Santoso, serta dibantu
beberapa nawak yang jadi pengurus di koordinator sektor (korsek).

Karena luasnya wilayah dan untuk memudahkan koodinasi, Arema Cikarang
dibagi menjadi beberapa korsek, yaitu: Cibitung, Cikarang Kota, Tanah
Tinggi, Lemah Abang, Cikarang Baru, dan Cikarang Kidul.

Karena berbagai macam alasan, pada akhirnya mengerucut menjadi dua,
yaitu: Cikarang Baru dan Cikarang Kidul (Cikardul). Pada masa
kepemimpinan Sam Yadi yang berjalan selama dua periode (2000-2004) ada
beberapa pencapaian prestasi yang patut dibanggakan. Salah satunya
menjadi salah satu penggagas dan pendeklarator terbentuknya Forum
Persaudaraan Arema Jakarta & sekitarnya (FPAJ) dan lebih popular
disebut Arema Batavia.

Pada periode berikutnya terpilih beberapa orang pengurus, diantaranya :
Ketua : Sam Arif
Wakil Ketua : Samynojd
Seketaris : Pak Bambang
Bendahara : Sam Helos
Penasehat : Sam Yadi "Singo", Sam Hery Schneider, Pak De Yatno, Sam
Taufan (Gambur), Cak Pa'I, Sam Ot ,dll.

Pada periode ini (2004-2006) kreatifitas nawak-nawak Arema Cikarang
sudah semakin beragam. Dari mulai kegiatan baksos, yaitu: sunatan
masal, donor darah, dan kerja bakti, yaitu dengan membersihkan
lingkungan di daerah tertentu.

Sampai dalam hal berkreasi menciptakan pernak-pernik Arema, dari kaos,
jaket, kalender, stiker, hingga spanduk.

Ketika rolod-rolod dari Sidoarjo korban Lumpur Lapindo berdemo di
Jakarta untuk memperjuangkan haknya, kami dan nawak-nawak Arema
Batavia dengan mengatas namakan Aliansi Masyarakat Jatim, berupaya
mengalang dana untuk membantu mereka selama di ibukota.

Uniknya dalam penggalangan dana tersebut, kami berinteraksi hanya
dengan SMSan. Dengan pertimbangan efisiensi waktu dan jarak yg saling
berjauhan. Lagipula ide untuk membantu nawak-nawak korban Lapindo itu
tercetus secara tiba-tiba dan tidak direncana. Selanjutnya dana kami
transfer ke seseorang perwakilan Arema Batavia untuk selanjutnya
diserahkan kepada yang berhak menerimanya.

Semua ini kami landasi atas dasar saling percaya, iklas, dan
semata-mata karena faktor kemanusiaan. Seperti halnya ketika
dolor-dolor dan nawak-nawak berbondong-bondong datang ke Jakarta, baik
untuk tujuan membela Arema saat bertanding, atau ketika akan berdemo,
Arema Batavia tidak bosan-bosan untuk menjamunya dengan catatan ada
informasi dari jauh-jauh hari dan ada koordinatornya. Dan yang
terpenting, tetap menjaga nama baik Arema(nia), tidak berulah yang
macam-macam sehingga dapat merugikan kita semua.

Dan di periode berikutnya (2006- hingga sekarang), ada beberapa
perubahan struktural di kepengurusan.
Ketua : Samynojd
Wakil Ketua : Pak Bambang (resign)
Bendahara : Sam Sujud (sementara)
Tim Kreatif : Sam Ngan, Arie, Sam Suga, Sam Helos, Sam Wahid, Harris
serta ada beberapa perwakilan dari sektor.

Dengan komposisi kepengurusan seperti ini, diharapkan peran serta dari
anggota jadi makin besar. Organisasi dengan jumlah pengurus banyak
tapi kalo sepi akan kegiatan juga gak ada gunanya. Karena pada
dasarnya organisasi hanya sebagai wadah atau fasilitator saja.

Artinya kami mencoba mengakomodir keinginan atau ide-ide dari
nawak-nawak untuk selanjutnya kita aktualisasikan. Tentunya melalui
serangkaian pemikiran dan pertimbangan. Dan itu adalah tugas daripada
pengurus, tim kreatif, dan tak lupa saran atau nasehat dari para
pembina atau sesepuh.

Jika dirasa kita mampu dan bermanfaat, kami akan wujudkan ide-ide
tersebut. Tapi kalo dirasa tidak mungkin atau dari skala prioritas
kurang perlu, mungkin akan kita tunda dulu.

Visi dan misi kami kedepannya adalah profit oriented. Artinya sebagai
Arema(nia) yang ada di perantauan kami mengupayakan melalui organisasi
ini bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Karena tujuan awal kita
merantau adalah cari kerja (ojir). Paling tidak dapat membantu
rekan-rekan yang terkena PHK dan lain sebagainya supaya tidak
menganggur. Sukur-sukur bisa menciptakan lapangan kerja bagi para
Aremania dan masyarakat sekitarnya.

Kenapa kami sebut Aremania, karena anggota kami ada juga yang
simpatisan (bukan gnaro Ngalam aslee, tapi ingin menjadi bagian dari
Arema). Kami juga sedang merintis usaha kecil yg kami beri nama UD.
AREMA MANDIRI yang kedepannya diharapkan bisa berbadan hukum
selayaknya sebuah koperasi.

Dan yang paling penting adalah tetap terjaganya ikatan persaudaraan
(Arema Brotherhood) diantara kami. Kami berusaha untuk mengikis
perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami. Yang ada hanya satu jiwa,
Arema.

Inilah sedikit gambaran profil daripada Arema Cikarang, mudah-mudahan
bermanfaat bagi nawak-nawak Arema(nia) di seluruh dunia. Baik yang
nyata maupun yang maya.

Di bumi mana Arema berpijak, di situlah langit kita junjung, karena….
AREMA TIDAK KEMANA-MANA ,TAPI ADA DI MANA-MANA
SMANGADH SATOE DJIWA……AREMA!!!

samynojd

Sepak Bola Moderen Itu Bisnis


Ketika saya masih bekerja untuk program Planet Football RCTI, tahun 1995, saya mewawancarai Nirwan Bakrie di Hotel Hilton (sekarang Sultan). Pertanyaannya seperti ini : Anda bercermin dari sosok Silvio Berlusconi, dalam membangun sepak bola dan bisnis Anda ya? Demikian kira-kira saya tanya, mengingat saat itu sosok NDB, panggilan akrabnya di lingkungan sepak bola, melakukan banyak terobosan kreatif.

Dengan senyum kecilnya, Nirwan menjawab, “Bisa aje elu. Intinya gini, gua bangun bola perlu banyak hal, dan wajar kalau bisa mirip seperti Silvio, tapi gua nggak berpolitik seperti Silvio,” tegasnya. Dari dekade para sosok-sosok penggila dan hobi bola, tapi memiliki kerajaan bisnis dari pendahulu-penduhulunya, hanya menyisakan satu orang, yaitu Nirwan Bakrie, sedangkan yang lainnya terkubur habis-habis.

Bedanya, memang lumayan antara Nirwan dan Silvio. Jika Silvio memulai bisnisnya dari seorang advertising, dan kemudian memiliki banyak media, seperti televisi Telemilano, dan kemudian merambah punya RAI, televisi Italia secara monopoli. Sebagai pebisnis yang lihai, Silvio juga membuka jaringan telivisi kabel, seperti Canale 5, dan banyak misnis media cetak, jadilah bangunan holdingnya media grup. Termasuk didalamnya, majalah bergengsi Forbes pun dijadikan alat propaganda membangun image-nya di bidang politik. Dan, buntunya, lahirlah partai baru bernama Forza Italy.

Dari konsep bisnis raksasa yang dibangun enterpreuner Silvio Berlusconi, melangkahkan kakinya sebagai perdana menteri Italia dua kali hingga saat ini, serta beberapa kali menjadi menteri Tenaga Kerja dan menteri Kesehatan pun pernah dijabat. Tidak sampai di situ, klub sehebat AC Milan pun mampu dibeli dalam menjaga stabilitas bisnisnya. Mungkin, karena apes akibat sudah mampu memiliki segalanya (membeli kekuasaan dan membeli duniawi), Silvio sempat kena getahnya, dilempar sepatu dengan merontokkan giginya, hingga harus dirawat sebulan, walaupun posisinya sebagai perdana menteri Italia saat ini.

Sedangkan, Nirwan Dermawan Bakrie adalah salah satu generasi kedua dari keluarga Achmad Bakrie, pengusaha lokal asal Lampung, yang memiliki bendera Kelompok Usaha Bakrie Grup. Sebagai anak ketiga, setelah Aburizal ‘Ical’ Bakrie dan Roosmania ‘Odi’ Bakrie, Nirwan Bakrie menghabiskan masa kecilnya di Jakarta, dan kemudian melanjutkan studinya di Amerika, hingga mendapatkan gelar MBA.

Tahun 1985, Nirwan dicambangi Rahim Sukasah dan Bertje Matulapelwa agar mau membangun klub baru, akibat semua pemain UMS’80 dibubarkan oleh William Suryajaya, pemilik Astra Grup. Dan, sepertinya Nirwan sangat tertarik, sehingga lahirlah Pelita Jaya Jakarta. Setelah membangun klub baru, Nirwan juga sangat serius membangun homebase. Maka, dibangunlah sistem kontrak bangun 20 tahun dengan pemda Jakarta Selatan, untuk membangun Stadion Sanggraha Lebak Bulus. Juga membangun komplek atlet Pelita Jaya, di Sawangan – Bogor, untuk semua atlet binaan Pelita Jaya grup, seperti bulutangkis, tenis, sepak bola dan basket.

Nirwan Bakrie, sebagai pengendali grup Bakrie, tidak hanya berhenti sampai di situ. Dalam membangun bisnisnya, Nirwan mendapat tawaran dari Agung Laksono, pemilik ANTV untuk mengambilalih televisi swasta tersebut. Maka, tahun 1993, Nirwan sudah menguasai ANTV sepenuhnya.

Dalam bisnis media, Nirwan juga mendapat partner dari M. Nigara (mantan wartawan Bola), untuk membangun media olahraga mingguan, yaitu Media GO (kini jadi harian dengan nama GoSports). Nirwan Bakrie sangat setuju, ketika tahun 1994, saat launching tabloid GO tersebut mendatangkan klub elit Italia, Sampdoria dan AC Milan.

Saat itu, Nirwan Bakrie sudah memasuki organisasi PSSI, di mana pertama kalinya Nirwan ditunjuk menjadi manajer tim PSSI yang dipersiapkan ke Pra Piala Dunia 1988-89, juga manajer tim PSSI Merdeka Games 1989, di era kemimpinan Kardono. Tahun 1992-3, Nirwan sudah duduk dalam kepengurusan PSSI, sebagai ketua III - PSSI, dengan melahirkan PSSI Primavera dan Baretti.

Masih belum puas dalam merambah media, Nirwan juga membeli beberapa media, Nusra (Bali), Sinar Pagi (Jakarta), dan Berita Buana (Jakarta) yang dipindah dari harian pagi menjadi harian sore. Juga menginvestasi program RRI Program 2. Sementara itu, abangnya Aburizal Bakrie juga memelihara Koran nasional Pelita.

Sementara bisnis Bakrie Grup sepertinya juga semakin berkibar, sehingga bisnisnya mampu merambah ke batubara, minyak, kontruksi, jalan tol, asuransi dan bank. Hanya saja, saat membangun dunia perbankan, dengan membeli Bank Nusa Nusantara, Nirwan Bakrie terimbas kasus likuiditas BLBI tahun 1997, bersamaan dengan runtuhnya regim Soeharto.

Dari sinilah, sepertinya Nirwan Bakrie alergi melanjutkan pembangunan sepak bola dan medianya. Imbasnya, Pelita Jaya Jakarta diberikan pengelolaannya oleh Nurdin Halid. Harian Nusra (kini Nusa) diberikan ke teman-temannya. Sedangkan Sinar Pagi dan Berita Buana dikubur habis-habis nasibnya. Bahkan, sejak berhenti kompetisi akibat adanya kerusuhan nasional, Pelita Jaya sepertinya menjadi muzafir, pindah-pindah homabase, dari Solo, ke Cilegon, kemudian pindah ke Purwakarta, dan sekarang bernaung di Kerawang – Jawa Barat.

Namun, kian membaiknya Grup Bakrie, dalam tahun 2008 Nirwan Bakrie membeli Lativi milik Abdul Latief, dan menjadikan televisi swasta tersebut berubah jubahnya menjadi TvOne. Praktis, saat ini, Nirwan memiliki dua televisi, dan juga menambah ada portal online, Viva News.

Di sepak bola, sejak Nurdin Halid bercokol di PSSI tahun 2002, Nirwan Bakrie sepertinya juga semakin terlibat banyak dalam membangun manajemen PSSI, dengan posisi sebagai Wakil Ketua PSSI, serta ikut membidani Badan Liga Indonesia, menjadi perseroan terbatas, sebagai badan usaha bisnis di bawah naungan PSSI (yayasan). Artinya, sepak terjang Nirwan, memang sangat panjang dalam ikut serta mewarnai dunia sepak bola, dari tahun 1985 hingga saat ini.

Dulu Sifatnya Hobi
Bandingkan, dengan pengusaha-pengusaha sukses sebelum jaman Nirwan Bakrie, yang juga ikut andil mendirikan Liga Utama Sepak Bola (Galatama), di jaman kepemimpinan Ali Sadikin. Mereka-mereka itu, lebih dominan menjadi penggila bola yang berhobi membangun klub, tanpa berorientasi bisnis.

Sebetulnya, sebelum ada Galatama, tahun 1968 ada penggila bola asal Medan, TD Pardede yang membangun klub barunya dengan nama Pardedetex. Nyaris semua pemain hebat di jaman itu dijadikan satu tim besar di Medan, seperti Sucipto Suntoro, Abdul Kadir, Jacob Sihasaleh, Sinyo Aliandu, Ronny Pasla. Namun, saat bergabung sebagai anggota Galatama, TD Pardede sepertinya frustasi melihat cara-cara kompetisi sepak bola nasional, sudah dirasuki virus suap menyuap. Maka, TD Pardede mengundurkan diri, dan digantikan oleh anaknya, Johnny Pardede. Hanya saja, bapaknya juga masih nggak kuat melihat kompetisi semakin membabi buta main kotornya, akhirnya Pardedetex dibubarkan.

Di Jakarta, juga membanjir pengusaha-pengusaha yang berhobi membentuk tim, yang sifatnya lebih kekeluargaan ketimbang membangun bisnis bolanya. Benny Mulyono, pemilik pabrik cat terbesar jaman itu, Warna Agung, adalah klub elit yang pertama kalinya menjuarai Galatama tahun 1979. Dihuni oleh pemain-pemain nasional, seperti Ronny Pattinasarany, Rully Nerre, Robby Binus, Timo Kapisa, Endang Tirtana, Tinus Haipon, dan terakhir sebelum membubarkan diri, masih menyisakan Widodo C Putra. Namun, Benny Mulyono sepertinya juga frustasi melihat cara-cara kompetisi yang lebih dominan main suap menyuap (di jaman itu yang disuap selalu lebih banyak pemain).

Masih di Jakarta, ada klub Tunas Inti, yang dibangun lewat hobinya dari pengusaha Benniardi, pemilik PT Tempo Tbk (pabrik obat-obatan), juga akhirnya terlindas oleh gaya permaianan suap menyuap, walaupun saat itu dihuni oleh banyak pemain besar, diantaranya Ronny Pattinasarany, Rusdin Lacanda dan pemain asingnya Issac Moses (pemain asal Belanda berdarah Ambon). Saking gilanya Benniardi, tidak hanya membangun Tunas Inti. Namun juga mambangun klub Galatama, Tempo Utama (dihuni Wahyu Tanoto, Paulus Rogger). Walaupun, di masa jayanya, Tunas Inti dan Tempo Utama juga gulung tikar, bersamaan bangkrutnya bisnis PT Tempo (saat itu disinyalir, Benniardi selain pengusaha yang hobinya judi bola).

Di Surabaya, ada A. Wenas, pengusaha papan atas asal Surabaya, yang memiliki rumah judi terbesar di kawasan Indonesia Timur, juga membangun klub bernama Niac Mitra. Nyaris, semua pemain Persebaya Surabaya, saat juara Suratin Cup 1977 direkrut, seperti Hamid dan Riono Asnan, Rudi Keltjes, Rae Bawa, Joko Malis dan Syamsul Arifin. Juga pemain PSM Makassar, Yusuf Malle dan Dullah Rachim juga ditransfer. Niac Mitra saat itu, tidak hanya bintang Persebaya yang direkrut, tapi juga dua pemain asing asal Singapura, Fandi Achmad (kini pelatih Pelita Jaya Karawang) dan David Lee. Namun, karena tidak memiliki wawasan berbisnis bola, akhirnya Wenas juga bangkrut membangun Niac Mitra.

Dari Jawa Tengah, nama Arseto Solo juga menjadi salah satu tim elit. Klub milik Sigit Harjoyudanto itu, juga dihuni oleh banyak pemain-pemain bagus, seperti Ricky Yacobi, Nasrul Kotto, Eduard Tjong. Saat itu, dipastikan dana yang dikucurkan anak mendiang Presiden Soeharto itu, sepertinya tak ada limitnya. Bahkan, Stadion Manahan Solo pun ikut dibangun secara megah.

Namun, gara-gara sistem pembinaan yang amburadul, akibat gaya membina PSSI Primavera, yang dengan terang-terangan mencaplok pemain binaan klub Arseto, akhirnya berbuntut pembubaran klub elit Solo tersebut. Saat itu, Indriyanto Nugroho, adalah pemain asli Solo yang dibina Arseto Solo. Saat memperkuat Haornas Jateng, Indriyanto masuk dalam talenta skuad Primavera yang disekolahin ke Italia. Namun, setelah pulang ke Indonesia, ujug-ujug Indriyanto sudah diakui milik Pelita Jaya. Ismed Tahir, yang menjadi tangan kanan Sigit Harjoyudanto, sepertinya murka, dan memberi sikap yang sangat miris, yaitu memberi nilai transfer Indriyanto Nugroho hanya sebesar Rp 100 (baca seratus perak) ke Pelita Jaya yang dinilai sangat tidak etis dalam merekrut pemain. Dan, setelah itu, Arseto tahun 1995 membubarkan diri.

Dari ujung timur Indonesia, juga ada klub elit saat itu, namanya Makassar Utama, milik Yusuf Kalla (mantan wakil presiden). Saat itu, Makassar Utama adalah satu klub yang lumayan disegani. Ada nama-nama Mustafa Umarella, Hengky Siegers, Alimudin Usman. Namun, karena terkait banyak permainan suap menyuap, juga hasilnya Makassar Utama dibubarkan.

Di luar nama-nama klub di atas, sebetulnya hampei ‘sami mawon’ nasibnya, seperti klub-klub Jaka Utama (Yanita Utama/Krama Yudha Tiga Berlian), Mercu Buana (Medan Jaya), Lampung Putra, BBSA, Cahaya Kita, Angkasa, UMS’80, Perkasa Mataram, Sari Bumi Raya, BPD Jateng, Gajah Mungkur, Tidar Sakti, Caprina, Bintang Timur, Bima Kencana, Bali Yudha, Bima Kencana, BPD Jateng dan Pupuk Sriwijaya akhirnya semua terkubur.

Bahkan, klub raksasa di jaman itu, seperti Jayakarta yang dikelola FH Hutasoit, juga harus bangkrut, walaupun saat itu nyaris dihuni oleh begitu banyak pemain nasional, dari Sudarno, Iswadi Idris, Sofyan Hadi, Onyong Lisa, Anjas Asmara, Sutan Harhara dan Andi Lala. Begitupula Indonesia Muda milik Dimas Wahab, juga bubar di tengah jalan, setelah tersudut oleh kasus-kasus suap, padahal dihuni oleh Ronny Pasalah, Sueb Rizal, Junandi Abdullah, Dede Sulaiman dan Hadi Ismanto.

Sisi positif dari klub-klub Galatama yang pernah diikuti 41 klub di jaman itu, sudah benar dikelola oleh pihak swasta dan pribadi-pribadi yang memiliki usaha bisnis yang lumayan besar. Negatifnya, mereka para pengusaha di jaman itu sifatnya hanya hobi dan sekadar penggila bola (bisa jadi hanya ikut-ikutan), bukan bisnis sepak bola. Sebaliknya, di jaman sekarang, nyaris 90% dikelola bergaya majikan (pengusaha), tapi dananya dicubit dari APBD. Ini dipastikan tak pernah mungkin melakukan bisnis sepak bola sebagai industri.

Dulu, nama-nama klub sangat bagus dan lumayan sangar, ada Jayakarta, Warna Agung, Niac Mitra, Bandung Raya, Yanita Utama, Arema atau Mercu Buana. Sebaliknya, bandingkan, nama-nama tim yang ikut di Super Liga Indonesia, yang cenderung namanya dari singkatan, seperti Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSM Makassar, Persipura Jayapura atau Persib Bandung. Perlu saatnya merubah nama pada saat berubah menjadi perseroan terbatas (tapi holdingnya tetap Persija Jakarta, misalnya), tapi nama klub Jayakarta (misalkan).

Bisnis Investasi
Sebagai pencinta bola, saya mencoba mendeteksi semua sepak terjang dunia bola, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Intinya, memapaki sepak bola modern saat ini, semuanya serba barbau bisnis, dan semuanya dihitung dengan uang yang tidak kecil, dalam membangun investasinya.

Jika tidak paham betul dalam bisnis sepak bola, bisa-bisa semuanya ludes dan bangkrut. Klub se-raksasa Manchester United pun, walaupun memiliki income ratusan juta dolar, karena terkait dengan bisnis holding (sang pemiliknya), bisa jadi klub super elit Inggris ini, masih menyisakan banyak hutang. Mungkin, hanya Barcelona, yang dikelola secara unik (suporter), yang tak pernah berpikir masalah hutang, dan bahkan juga hanya mencari sponsor dari lembaga-lembaga sosial dunia, seperti Unicef (motifnya menyumbang, bukan dapat dana segar).

Di Indonesia, cepat atau lambat untuk pengelola bola, tidak bisa hanya minta disusui APBD seperti yang saat ini nyaris semua tim yang awalnya dari perserikatan masih menggunakan celah-celah anggaran dari pemerintah daerah (selain Arema Malang dan pelita Jaya). Jika hal tersebut tidak diberi rambu-rambu secara tegas, sepak bola nasional tetap akan terpuruk atau hanya ‘jalan ditempat’.

Oleh sebab itu, pengelola sepak bola yang mengikuti kompetisi di level Super Liga Indonesia, ataupun Divisi Utama, sudah harus memikirkan untung rugi dalam membangun sepak bolanya. Salah satu, investasi yang wajib dimiliki oleh setiap klub, adalah memiliki hak sepenuhnya mengelola infrastruktur, yang namanya stadion.

Stadion, bagi saya adalah modal super penting dalam menghasilkan uang cash dan fresh. Mengapa? Ya, karena dari hasil tiket penonton tersebut, setiap klub langsung bisa memutar investasi, bukan dari merchandising, sponsorship ataupun dari televisi. Oleh sebab itu, stadion sangat sakral bagi setiap klub yang ingin bisnis sepak bola. Tanpa, punya stadion yang dikelola sendiri oleh klub, maka jangan harap bisa melakukan bisnis dalam sepak bola.

Pemerintah daerah, baik gubernur/walikota ataupun bupati harus diberi instruksi dari pemerintah pusat (dalam hal ini presiden), bahwa setiap klub diberi kesempatan mengelola stadion yang sudah ada di kota-kota tersebut, dengan harga relatif murah atau gratis. Sehingga, setiap tim wajib mengelola sekaligus pemeliharaannya. Nanti, setelah memiliki income yang sudah stabil, baru diberi kesempatan melakukan bisnis sewa menyewa juga dalam batas-batas murah. Hingga, sampai mencapai kestabilan dalam membangun bisnisnya. Pihak pemerintah daerah hanya mengontrol sebagai penyeimbang, agar tidak kebablasan menjadi bagian dari kongkalikong atau korupsi.

Kalau SBY semakin serius, pemerintah daerah yaitu gubernur, walikota dan bupati hanya bisa menganggarkan alokasi APBD-nya hanya untuk sebanyak mungkin membangun infrastruktur stadion dan bandara modern. Dan, khusus untuk stadion langsung diberi kepercayaan setiap tim untuk mengelolanya dengan benar, termasuk pemeliharaannya. Kasih kesempatan setiap tim mengelola dengan bentuk kerjasama selama 10 tahun, dan sepuluh tahun berikutnya harus sudah menghasilkan bagi hasil dengan pemerintah daerah (misalnya).

Harusnya Menguntungkan
Taktik dan strategi setelah memiliki stadion yang dikelola sendiri. Maka, semuanya bisa dijadikan ladang uang. Salah satu taktik yang paling jitu, setiap tim harus memberi informasi kepada penggemar dan calon penggemarnya, bahwa tim yang dikelola itu adalah kumpulan para aktor dan para selebritis yang pantas ditonton seperti halnya penggemar musik nonton Slank, atau nonton Iwan Fals, Dewa ataupun grup band besar. Yaitu, harus membayar dengan nilai-nilai tertentu. Saran saya, minimal untuk nonton tim seperti Persebaya Surabaya, Persib Bandung, Persija Jakarta atau Arema Malang nilai Rp 50.000. Kalau perlu Badan Liga Indonesia, juga memberi standart bagi klub yang ikut kompetisi Indonesia Super League (ISL) dengan nilai tersebut. Sedangkan, penonton di Divisi Utama, minimal harus membeli tiket rata-rata sebesar Rp 30.000.

Jika, syarat-syarat tersebut sudah bisa disosialisasikan dan disyahkan sebagai standart tiket minimal setiap pertandingan. Maka, tugas pengelola/pelaku tim yang sudah investasi tersebut, harus tidak bisa kompromi kepada kelompok suporter ataupun fans club, bawah tidak ada harga diskon, kecuali siap membeli tiket terusan 17 pertandingan home (jika peserta kompetisi Super Liga Indonesia – 18 klub), baru mendapat diskon yang tidak banyak (5 sampai 7,5%), kalau hanya membeli sekali nonton, ya harus bayar Rp 50 ribu, kelas I bisa dihargai Rp 100 ribu dan VIP dihargai Rp 250 ribu (ya harus nyaman).

Contohnya : Stadion Kanjuruhan, jika diberi kesempatan dikelola sendiri oleh Arema Malang, tanpa ikut campur pemerintah daerah (walaupun tanah dan bangunan itu milik pemda). Maka, jika kapasitas stadion Kanjuruhan itu bisa menampung 50 ribu penonton. Jika, rata-rata tiket termurah harganya Rp 50 ribu, maka income Arema Malang dalam setiap pertandingan mencapai Rp 2,5 miliar. Maka, kalau ada 17 kali pertandingan di kandang ‘Singo Edan’ ini, akan mendapatkan tiket penonton sebesar Rp 42.700.000.000 (empat puluh dua miliar, tujuh ratus juta rupiah). Kalau, dihitung targetnya hanya 50% saja dari target income yang didapat, maka Arema satu musim bisa meraih tiket penton sebesar Rp 21.350.000.000 (kurang lebih Rp 21 miliar).

Pemasukan riil yang langsung bisa menjadi nyata adalah merchandising. Saya sangat ngiler melihat outlet independent yang mengolola merchandising di kota Malang, dari semua asesoris yang memiliki icon-icon Arema Malang. Jika, manajereman Arema Malang diberi ilmu oleh Badan Liga Indonesia, maka pemasukan setiap musim Arema Malang bisa meraih mendapatan bersih sekitar Rp 5 miliar, dari kreatifitas kostum baru setiap musim saja (kostum home and away, pin, slayer, topi, mug).

Ada keuntungan yang tidak dimiliki oleh tim-tim lain di luar Arema Malang (bisa ditiru, dengan memaksimalkan perusahaan-perusahaan lokal oleh tim lainnya). Yaitu peran PT Bentoel yang merasa memiliki kota Malang sebagai homebase-nya. Walaupun saat ini, PT Bentoel tidak lagi ikut serta dalam kepemilikan Arema Malang, namun goodwill-nya, PT Bentoel masih ‘tutup mata’ menyiram Arema Malang sebesar Rp 7 miliar.

Kalau Arema Malang bisa memelihara manusia-manusia berjiwa marketing yang handal, maka tidak tertutup kemungkinan Arema Malang bisa mendapatkan sponsorship yang lebih besar ketimbang Bentoel (yang seolah-olah wajib menyumbang Arema Malang). Modal kompensasinya, adalah stadion Kanjuruhan dari semua sudut, serta punya suporter setia yang datang ke stadion sebanyak 50 ribu suporter. Ini sungguh asset yang super dasyat, dan pasti akan dilirik oleh banyak produk.

Awal musim ini, saya mencoba menawarkan diri bisa bertemu dengan manajer Persebaya, Saleh Mukadar di Jakarta. Saya punya klien - Flexi yang ingin bermain dan terlibat di sepak bola nasional. Nilainya memang tidak banyak, yaitu sebesar Rp 2 miliar. Bahkan, pihak manajemen marketing Flexi, sudah menujuk dan naksir berat dengan Persebaya Surabaya, karena memiliki suporter yang fanatik dan militan. Kalau bisa mampu tiga besar atau juara, nilai kontraknya akan bertambah, demikian saran saya kepada Flexi.

Hanya saja, waktu itu saya diberi peran, agar bisa cawe-cawe memberi saran, agar Persebaya Surabaya bisa menjadi salah satu kandidat musim ini. Dari pembicaraan saya dengan Saleh Mukadar tersebut, saya memberi saran kalau bisa bekerjasama dengan pihak sponsor Flexi, saya menyarankan agar tidak memilih pelatihnya Danurwindo. Alasan saya agar Persebaya Surabaya tidak memilih Danurwindo, menurut saya, karena Danur itu pelatih brilian yang tidak pernah bisa menterjemahkan ilmu-ilmunya kepada pemainnya, dan tidak pernah bisa menjadi teman bagi anak buahnya. Intinya, Danur itu pinter tapi kaku, jadi kalau memakai Danur harus ditandem oleh orang yang bisa membaur kepada semua ofisial tim. Dan, cara ini pasti tidak afektif. Makanya, sampai hari ini perjalanan Danur selalu ‘jeblok’.

Namun, seminggu berikutnya Saleh Mukadar sepertinya ndableg, dengan bangga menulis di statusnya di jejaring sosial Facebook, yang intinya, walaupun banyak orang menentang terpilihnya Danurwindo memoles Persebaya Surabaya, saya putuskan justru memilih Danurwindo. Demikian kira-kira status Saleh Mukadar. Dan, setelah itu Saleh Mukadar juga tidak lagi menghubungi saya.

Saya mencoba menganalis, bahwa dalam mengelola sebuah lembaga yang berorientasi bisnis, seharusnya Saleh Mukadar berpikir kompromi. Memang, saran saya belum tentu benar, jika Persebaya Surabaya tanpa Danurwindo bisa juara. Namun, harusnya Saleh Mukadar juga berpikir bisnis, karena saran saya waktu itu, kalau tidak memilih Danurwindo, saya juga kasih solusi yaitu mengontrak Daniel Roekito (sosoknya bertanga dingin, sering membawa tim biasa-biasa jadi trengginas dan juga bisa juara). Dan, kalau saat itu Saleh Mukadar mau memilih Daniel Roekito, maka manajemen Flexi akan mengucurkan dana Rp 2 miliar sebagai sponsorship awal (meningkat jika punya prestasi).

Kembali, ke masalah Arema Malang, kalau Persebaya Surabaya yang belum teruji dalam kancah ISL sudah ditaksir oleh pihak sponsorship sebesar Rp 2 miliar, harusnya Arema Malang memiliki nilai lebih dibandingkan Persebaya, karena memiliki prestasi yang lebih bagus dekade ini dibandingkan Persebaya (walaupun pernah juara Divisi Utama). Namun, Persebaya baru saja naik pangkat dari anggota Divisi Utama promosi ke ISL. Hitunglah, nilai Arema Malang Rp 3 miliar setiap tahun dari sponsor di luar goodwill PT Bentoel.

Ada pemasukan yang sampai hari masih ‘dicurangi’ oleh Badan liga Indonesia, yang seharusnya menjadi milik klub yang jumlahnya sebetulnya lumayan jika dijumlah. Yaitu, mendapatkan dari televisi. Sebagai pemilik tunggal hak siar, ANTV sepertinya dipaksa oleh BLI – PSSI, dengan memberi nilai dari siaran langsung ke setiap klub yang sangat ‘miskin’, yaitu hanya sebesar Rp 40 sampai 60 juta setiap pertandingan untuk tuan rumah. Ini jelas-jelas sangat ‘curang’. Seharusnya, ANTV memberi kontrak kepada tuan rumah minimal Rp 100 juta untuk tim-tim biasa, dan Rp 200 juta untuk tim favorit (semuanya bisa diklasifikasikan sebagai tim favorit dan tim biasa).

Dalam kepengurusan PSSI dan BLI yang baru nanti (kalau SBY bisa menggusur Nurdin Halid dkk) aturan-aturan seperti ini harus dijalankan, agar setiap tim bisa meraup sebanyak mungkin income dari berbagai sumber sebagai haknya. Termasuk dari televisi. Ambil contoh, saat Iwan fals launching album terbarunya, ‘Keseimbangan’, yang siaran langsungnya dibeli pihak TvOne, maka pihak TvOne membeli acara tersebut dari manajemen Iwan Fals sebesar Rp 300 juta. Saya pikir, ANTV harus mencontoh sistem bisnis seperti itu, kalau mau menyiarkan siaran langsung Arema Malang versus tim favorit (dinilai sebagai big match) nilainya Rp 300 juta, jika menghadapi tim seperti Persitara Jakarta Utara nilai Rp 200 juta. Berarti satu musim, jika aturan ini diberlakukan, maka Arema malang dalam satu musim rata-rata mendapat pemasukan dari televisi sebesar Rp 3,4 miliar (jika rata-rata Rp 200 juta dikalikan 17 pertandingan).

Jadi, total pendapatan tim seperti Arema Malang, yang memiliki infrastruktur stadion yang dikelola sendiri dalam satu musim, sebesar Rp 21 miliar (penonton), merchandising Rp 5 miliar, goodwill PT Bentoel Rp 7 miliar, sponsorship Rp 3 miliar, hak siar televisi Rp 3,4 miliar, jumlahnya sekitar Rp 38,5 miliar.

Mari kita hitung bareng-bareng, pengeluaran satu musim dari manajemen Arema Malang secara kasat mata saja. Untuk keperluan kontrak pemain sekitar Rp 15 miliar (sudah mendapatkan kualitas pemain yang mumpuni dan berkualitas). Transportasi Rp 2 miliar. Mess pemain dan makanan bergizi pemain Rp 3 miliar, panitia pertandingan Rp 4 miliar. Ujicoba dan persiapan tim menjelang kompetisi Rp 1 miliar. Maka, totalnya Rp 25 miliar sebagai modal investasi. Dan, menghasilkan Rp 38,5 miliar (kira-kira jika dihitung punya pinjaman ke bank sebesar Rp 25 miliar, pihak bank akan memberi pinjaman, mengingat punya perhitungan bisnis dengan keuntungan yang nyaris 30% dari nilai pinjaman per tahun).

Tim sebesar Arema Malang, masih punya pemasukan tambahan, jika mampu membangun kompetisi lokal amatir untuk pembinaan di usia dini, dari U-15, U-17, U-19 dan U-21 untuk mencetak pemain berbakat di sekitar kota Malang dan sekitarnya. Arema saatnya membangun investasi jangka panjang dengan memutar roda kompetisi pembinaan tersebut yang kira-kira nilainya tidak lebih dari Rp 1 miliar. Namun, bisa menghasilkan talenta-talenta berbakat dengan nilai jual tinggi. Konsep ini, sebetulnya mengurangi anggaran pembelian pemain lokal atau asing, tapi memaksimalkan pemain binaan sendiri.

Jika Arema Malang memiliki prestasi, misalkan juara Indonesia Super League atau pun juga juara Piala Indonesia, maka juga akan meraih hadiah yang sekitar Rp 2 sampai 3 miliar (dalam kepengurusan PSSI yang baru nanti, saatnya hadiahnya bisa mencapai Rp 10 sampai 20 miliar, agar semua tim semakin serius mengelola tim dengan investasi yang benar).

Dan, otomatis, jika Arema bisa juara, dipastikan mewakili Indonesia di laga AFC Champions League. Dengan wakil dari Indonesia saja, AFC sudah memberi hadiah sebagai peserta sebesar Rp 2 miliar (sebagai subsidi) untuk penyelenggara dan juga transportasi away. Dengan menggelar tiga (3) kali pertandingan kandang dari peserta AFC Champions League saja, Arema Malang, diperkirakan masih mengantongi Rp 7,5 miliar dari tiga (3) partai home. Jika, masa depannya tim-tim Indonesia mampu mencapai prestasi puncak di level kompetii Asia, hadiahnya gila-gilaan, juara AFC Championship bisa mencapai Rp 100 miliar, mencapai semifinal sudah dapat Rp 25 miliar. Menggiurkan bukan?

Perhitungan sistem bisnis sepak bola ini, bukan hanya ‘macan kertas’, semuanya dimulai dari tekad dan kepedulian pemerintah (jika SBY benar-benar serius ikut memikirkan sepak bola), bukan hanya memikirkan pencintraan SBY. Maka, tinggal ketok palu, ikuti saran saya, dan benahi semua elemen-elemen yang ada dalam pembinaan dan kompetisi, maka cukup membutuhkan waktu 8 tahun, semua klub yang ikut kompetisi tidak lagi pontang-panting mengelola tim, dan otomatis prestasi itu nongol dengan sendirinya.

Erwiyantoro
Pencinta sepak bola Indonesia